Pagi itu pukul 05.27am

Raniar, demikian nama panggilannya. Gadis ayu pemain seruling dalam orkestra kehidupan. Memandang berbinar ke jalan lurus di trotoar yang di laluinya. Pohon-pohon Kiara Payung di sisi kanan dan kirinya yang saling bersilang menambah suasana teduh jalan menjadi lebih syahdu. Tiupan angin menerpa lembut rambutnya yang berkibar, seolah alam memandu jalannya dengan ceria.

lanjut baca →

Suara Gelas Pecah

Sudut sang istri

Praaangggg!!!

“Diammmm!!!.” Katanya memerintah dan marah. Gelagar suara gelas pecah, menghantam sisi kanan lemari es. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia. Suamiku. Ketika suara yang memekakan telinga itu sayup-sayup berhenti, ku rasakan keheningan yang mencekam. Bukan suaranya yang kelihatan begitu menakutkan, akan tetapi ada getaran-geraran samar yang mengelayut di hati dan meninggalkan bekas-bekas luka yang menyesakkan. Tanpa ku sadari ke dua tanganku memegang mulut. Dan suami ku pergi. Seolah hilang bersama sepi yang gila itu.

lanjut baca →

Sinopsis Novel NORA Tetralogi Dangdut 1

Membaca buah kisah dalam novel karangan Putu Wijaya NORA Tetralogi Dangdut bagian pertama, seperti merasakan ironi kehidupan yang absurd.

Cerita natural dengan sentuhan tak terduga dalam setiap lembar-lembar novel. Pembaca bagai di bawa ke alunan musik dangdut yang meliuk-liuk dengan segala kekonyolannya tanpa rencana dan tidak perlu masuk akal, tidak tertebak kemudian sisanya mengalir.

lanjut baca →

Kunang-kunang dan Jantasara Simarwantara | Cerpen CtS

Malam, adalah suatu yang mengasikkan. Sayap-sayap dan tubuh kami menyebar sinar benerang. Pematang sawah yang membentang seperti rangkaian landscapes lukisan yang membius, di temani oleh sepi yang sejadi-jadi. Penuh tawa dari satu pematang ke pematang yang lain, dari ujung yang satu ke ujung yang lain, sampai tibalah kami ke bulatan cahaya, teman sang malam, bulan.

lanjut baca →