Sekuntum Bunga Untuk Hatimu

Cerpen : untuk internet sehat. “YUK!! STOP kebencian di Sosial Media dan internet ~ memakainya secara arif dan dewasa”

Malam yang panas. Bulir-bulir keringat menetes deras membasahi kerah bajunya. Tetapi apa boleh di kata. Seorang profesional harus tetap semangat dan bekerja sesuai potensi dirinya dan menanam rasa syukur dalam-dalam ke hati. Seraya berkata “terima kasih untuk nafas ini, sehingga aku masih di perkenakan untuk berkarya.”

lanjut baca →

Pengeluh Profesional Di MedSos, Cas Cis Cus Gitu?

Media Sosial, dari namanya jelas banget yang media untuk bersosial dan mewartakan sesuatu yang bersifat sosial.

Sosial sendiri maknanya luas banget, tapi sih menurutku pribadi secara subjektif bisa juga berarti berawal dari diri sendiri kemudian mengalir ke individu-individu lanjut lagi ke masyarakat luas dan akhirnya kembali lagi ke diri kita sendiri.

lanjut baca →

Pagi itu pukul 05.27am

Raniar, demikian nama panggilannya. Gadis ayu pemain seruling dalam orkestra kehidupan. Memandang berbinar ke jalan lurus di trotoar yang di laluinya. Pohon-pohon Kiara Payung di sisi kanan dan kirinya yang saling bersilang menambah suasana teduh jalan menjadi lebih syahdu. Tiupan angin menerpa lembut rambutnya yang berkibar, seolah alam memandu jalannya dengan ceria.

lanjut baca →

Suara Gelas Pecah

Sudut sang istri

Praaangggg!!!

“Diammmm!!!.” Katanya memerintah dan marah. Gelagar suara gelas pecah, menghantam sisi kanan lemari es. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia. Suamiku. Ketika suara yang memekakan telinga itu sayup-sayup berhenti, ku rasakan keheningan yang mencekam. Bukan suaranya yang kelihatan begitu menakutkan, akan tetapi ada getaran-geraran samar yang mengelayut di hati dan meninggalkan bekas-bekas luka yang menyesakkan. Tanpa ku sadari ke dua tanganku memegang mulut. Dan suami ku pergi. Seolah hilang bersama sepi yang gila itu.

lanjut baca →