Surat Cinta dari Kahlil Gibran kepada May Ziade, menjawab perhatian May

Surat ini berisi tentang jawaban Kahlil Gibran untuk menjawab perhatian yang di berikan oleh May Ziadah kepada dirinya. Surat ini tanpa tanggal hanya ada lampiran tahun yaitu tahun 1920.

May Ziadah, suatu ketika bertanya kepada Gibran tentang bagaimana ia menulis, bagaimana ia makan, menjalani kehidupan sehari-hari dan sebagainya. May juga bertanya tentang rumah Gibran, kantornya dan segala yang di kerjakannya. Beberapa pertanyaan tersebut di jawab Gibran dalam isi surat berikut ini :

 

Surat Cinta dari Kahlil Gibran kepada May Ziade, menjawab perhatian May

1920

. . . Betapa manisnya pertanyaan-pertanyaanmu, dan alangkah bahagia aku menjawabnya, May. Hari ini adalah hari merokok ; sejak pagi-pagi aku telah membakar sejuta rokok. Merokok bagiku merupakan sebuah kesenangan, bukan sebuah kebiasaan. Kadang-kadang aku tidak merokok sebatangpun selama seminggu. Aku bilang aku menghabiskan sejuta rokok. Semua itu adalah kesalahanmu. Jika aku sendirian di lembah ini, maka aku tak kan kembali . . .

Tentang pakaian yang ku pakai hari ini, aku punya kebiasaan memakai dua setel pakaian pada saat yang sama; yang satu di tenun oleh tukang tenun dan di buat oleh penjahit, sedang yang lainnya terbuat dari daging, darah dan tulang-belulang. Tiap hari aku aku sedang memakai sebuah jubah panjang yang lebar dengan noda-noda tinta dari berbagai warna. Pakaian ini tidak berbeda jauh dari yang biasa para darwisy, hanya saja yang ku pakai ini lebih bersih. Jika aku kembali ke dunia Timur, aku tidak akan memakai sesuatu selain pakaian Timur model kuno.

. . . Tentang kantorku, masih tetap tanpa langit-langit tanpa daging, tetapi adalah lautan pasir dan lautan ether seperti juga pada hari-hari kemarin, yang dalam, penuh gelombang serta tak terbatas pantai. Namun kapal yang kulayarkan di atasnya tiada bertiang. Dapatkah engkau memasang tiang-tiang pada kapalku?

Buku Kepada Tuhan masih terkatung-katung penerbitannya, dan lukisan yang terbaik dalam Pralambang yang dua minggu yang lalu ku kirimkan sejilid padamu.

Setelah menjawab beberapa pertanyaan May. Gibran mulai menerangkan dirinya secara simbolik kepada May.

Apa yang mesti ku katakanan padamu tentang seorang laki-laki yang telah di tawan oleh Tuhan antara dua wanita, yang satu merubah impian si laki-laki ke alam kesadaran, yang satu lagi merubah kesadarannya menjadi impian? Apakah yang mesti ku katakan tentang seorang laki-laki yang di letakkan Tuhan di antara dua lampu? Apakah ia sendu ataukah bahagia? Adakah ia terasing dalam dunia ini? Aku tak tahu. Tapi aku ingin bertanya padamu jika kau masih tetap mengingatkan laki-laki itu sebagai orang asing yang bahasanya tidak dapat di mengerti pleh semua orang di alam semesta raya ini.
Aku tak tahu. Tapi, aku bertanya padamu jika engkau ingin berbicara dengan laki-laki ini dengan bhasa yang di ucapkannya, karena engkau lebih bisa memahaminya dari pada siapapun juga. Di dunia ini banyak orang yang tidak mengerti bahasa jiwamu. Aku ini May, adalah salah seorang dari orang-orang yang di karuniai oleh kehidupan ini banyak sahabat dan penggemar. Namun katakanlah padaku: dapatkah kita mengatakan kepada salah seorang di antara para sahabat setai itu; “Bawakanlah salibku barang sehari saja”? Adakah seseorang yang tahu bahwa masih ada sebuah nyanyian di balik nyanyian oleh suara-suara dan tak terungkap oleh getaran tati-tali? Adakah seseorang yang melihat kegembiraan dalam duka kita dan melihat kedukaan dalam kegembiraan kita?

. . . Masih ingatkah kau May, akan ceritamu padaku tentang seorang wartawan di Buenos Aires yang menyuratimu dan meminta apa yang biasanya di minta oleh para wartawan – yaitu gambarmu? Aku telah memikirkan permintaan wartawan itu berkali-kali, dan tiap kali itu pula aku berkata pada diriku sendiri “Aku bukan wartawan, jadi aku tidak boleh meminta apa yang biasa di minta oleh wartawan. Tidak, aku bukan wartawan. Jika seandainya aku seorang penerbit atau redaktur sebuah majalah atau Koran, dengan terus-terang dan sungguh-sungguh, tanpa rasa malu aku akan meminta gambarmu. Tidak, aku bukan seorang wartawan; apa mesti ku lakukan?”

Gibran

Dari Buku Potret Diri Kahlil Gibran. Disusun dan di terjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris oleh Anthony R.Ferris. Di terjemahkan dari Kahlil Gibran, a Self-Portrait oleh M.Ruslan Shiddieq.

Cetakan Pertama tahun 1989

Published by

depalpiss

Digital Blogger Simple Story. Berbagi dan bercerita, blogger kecil dalam dunia blogger Indonesia ||

Berkicaulah bro and sis ;)