Kunang-kunang dan Jantasara Simarwantara | Cerpen CtS

Malam, adalah suatu yang mengasikkan. Sayap-sayap dan tubuh kami menyebar sinar benerang. Pematang sawah yang membentang seperti rangkaian landscapes lukisan yang membius, di temani oleh sepi yang sejadi-jadi. Penuh tawa dari satu pematang ke pematang yang lain, dari ujung yang satu ke ujung yang lain, sampai tibalah kami ke bulatan cahaya, teman sang malam, bulan.

Mengitari cahaya, tidak mengasikkan.” Begitu kataku kepada teman-teman. Saat itu kami sedang berterbangan di bawah sinar rembulan yang begitu anggunnya.

Kemudian ku lanjutkan kata-kataku, “sampai-sampai kita semua lupa bahwa kita terbuat dari cahaya.”

Kemudian bagai lokomotif yang terlepas dari stasiun, kata-kataku makin lancar “bukankah kita seharusnya beterbangan di tempat-tempat yang gelap untuk memberikan cahaya, bukannya malah mencari cahaya sepeti ini. Dan lagipula kita akan kembali jua pada cahaya, suatu saat nanti, jadi kenapa harus di sini?, sinar bulan itu, bukan cahaya sesungguhnya?, ia hanya memantulkan cahaya milik matahari?”

Sontak saja celotehanku itu membuat mereka, yah mereka, teman-temanku marah besar.

Kepalan tinju besar-besar siap menghantam hidungku yang pesek. Teriakan dan makian bertabrakan seperti sebuah batu yang di jatuhkan secara kasar ke dalam air, bergelombang memencar kesegala arah dan penuh distorsi.

Namun beruntung Jantasara Simarwantara, salah satu dari kelompok kami, Ia adalah kunang-kunang yang paling bijak diantara kami semua. Sangat sabar, penuh welas asih. Melerai mereka semua.

Ketika saya-sayap cahaya berseliweran seperti untaian irama lagu yang tak teratur, membentuk rangkaian guratan-guratan bayang cahaya yang indah jika di lihat dari jauh, tapi sangat mencekam jika di rasakan.

Ia berkata dengan lantang “Hei, apa yang kalian ributkan, apakah kalian merasa benar sendiri. Apakah kalian sudah menjadi hakim dengan menghukum pendapat orang lain yang berbeda dari kalian?, apakah kebenaran dengan begitu mudahnya kalian bisa klaim seenaknya, sehingga pendapat lain di luar pendapat kalian adalah suatu kesalahan yang nista?”

Kemudian, senyap…

Suaranya yang lantang itu, sangat membingungkan di tengah suasana gaduh dan kemarahan. Namun itu serta merta tidak menghentikan kemurkaan mereka. Sesaat kemudian mereka pergi meninggalkan kami, hanya tersisa aku dan si bijak Jantasara Simarwantara.

Dan langit, bulan serta beberapa bintang kembali menyanyikan sebuah lagu sendu tentang malam.

sudah diam, heninglah
nikmati saja kesendirian
begitu semua hilang musnah
hanya ada kosong

Rempoa, 13 Juni 2015

———-
Daftar Cerpen tak Selesai (CtS) lainnya :

———-

Published by

depalpiss

Digital Blogger Simple Story. Berbagi dan bercerita, blogger kecil dalam dunia blogger Indonesia ||

3 kicauan di “Kunang-kunang dan Jantasara Simarwantara | Cerpen CtS”

    1. ha ha! :) bukan, tentang itu… masalahnya kadang kita merasa benar sendiri dan kadang meremehkan pendapat orang lain… padahal sebenarnya kita bisa belajar dari pendapat oranglain yg berbeda dg kita, hehe hanya sebatas pendapat & gagasan nggak terlalu serius sob… ini sebetulnya cerpen tuk diri saya sendiri supaya tetap eling nan waspada.. kalo kata orang jawa ojo dumeh!! sip tku 😉

Berkicaulah bro and sis ;)