Pagi itu pukul 05.27am

Raniar, demikian nama panggilannya. Gadis ayu pemain seruling dalam orkestra kehidupan. Memandang berbinar ke jalan lurus di trotoar yang di laluinya. Pohon-pohon Kiara Payung di sisi kanan dan kirinya yang saling bersilang menambah suasana teduh jalan menjadi lebih syahdu. Tiupan angin menerpa lembut rambutnya yang berkibar, seolah alam memandu jalannya dengan ceria.

Jalanan ini masih sangat lengang. Raniar menarik ujung atas blus lengan panjangnya melihat jam digital di pergelangan tangan kirinya : 05.27am. “Masih terlalu pagi” desahnya lembut. Matahari muncul di ujung jauh. Mengirim cahaya yang masih malu-malu dan merayap disela-sela pohon, mencuri-curi celah untuk di sinari. Raniar masih terus berjalan pelan dengan percaya diri.

Seorang pelukis jalanan menyapanya: “pagi cantik.” Raniar hanya tersenyum. Menghampiri bangku kecil di sebelah lukisan-lukisan portrait yang di pajang si pelukis. Dan ia duduk, mengeluarkan seruling perak dari kantong kecil di balik blus putih gadingnya, dekat perut. Mengusap-usap benda itu seperti seorang ibu yang sedang membelai putra atau putrinya.

Sang pelukis hanya memperhatikan, menyiapkan alat-alat lukisnya. Cat acrylic, kuas dengan segala jenis bentuk, palet lukis, tinta dengan tiga warna dasar merah, biru dan kuning; serta dua warna netral putih dan hitam. Sang pelukis mencampur dengan lincah masing-masing warna, dia bergumum “aku akan melukis si cantik lagi, kali ini aku akan mencampur lebih banyak warna, aku tidak butuh sketsa, sketsa sudah ada dalam dirinya dan aku hanya perlu warna.”

Sementara Raniar telah siap dengan serulingnya, mengatur posisi duduknya, mengangkat kaki kanan dan di pangku rapat di atas kaki kirinya. Menegakkan kepalanya dengan anggun dan angkuh. Dadanya mengembang menarik udara dari hidung perlahan ke dalam paru-parunya. Ke dua lengannya setengah terangkat membentuk huruf V, merapatkan seruling di sela-sela bibir merah pink. Dan lagu itu bergulir lambat dan berirama, dalam tempo andante dan lama-kelaman bergulir ke andantino.

Pohon-pohon melambai pelan, meliuk-liuk mengikuti gerakan lagunya. Bunga-bunga melepaskan diri dari akarnya, berlari mengitari Raniar. Berjingkat-jingkat, berputar dan tertawa kegirangan; dan mereka bernyanyi :

Ayo, bangun, hari sudah pagi
Jangan bersedih hati
keluh kesah hanya ilusi
jalani hari dengan semangat

Ayo, kerja mumpung masih pagi
persembahkan dengan hati
besok jika tak ada lagi
tak perlu di sesali
jawaban sudah ada di diri
hanya perlu menyadari

Ayo, bangun, hari sudah pagi
Jangan bersedih hati
keluh kesah hanya ilusi
jalani hari dengan semangat

Angin berlahan semakin beranjak mendekat. Dalam perjalannnya angin memainkan aspal-aspal berbentuk bata yang tersusun rapi di jalanan itu. Aspalpun terlepas berpencar memutar dengan dinamis bergabung bersama para bunga. Setelah bosan berputar-putar, aspal-aspal saling merapat dengan di bantu angin seperti sebuah puzzle raksasa membentuk kanvas lukisan. Dan sang pelukis mulai bekerja melempar catnya ke udara. Ketika hampir jatuh, angin “menangkapnya.” Kemudian seperti rangkaian benang-benang kusut cat itu menyebar terbang di sepanjang jalan, mengitari sisi-sisi tubuh Raniar dan sang pelukis, dan masing-masing melemparkan dirinya tepat di tengah kanvas aspal… “cluuukkk!.”

Cat, mulai berbentuk. Perlahan namun pasti berubah menjadi sebuah imaji. Ia bergerak mengalir membentuk warna coklat muda dan berubah menjadi coklat kehitaman yang pekat, berbentuk dahan pohon. Dari pohon itu mengalir lagi membentuk garis-garis tidak beraturan dan berurat-urat dan membentuk gambar akar-akar dan akhirnya daun-daun berwarna hijau segar dan garis-garis kontur. Sehingga makin lama makin lengkap.

Sebuah pemandangan lukisan berupa pohon yang indah. Dengan segala kelengkapannya daun, batang-batang dan ranting-ranting yang berseliweran menyangga daun lengkap dengan akar di bagian atas pohon. Pohon itu terbalik akar-akarnya yang kuat berada di atas menerobos tanah dan mengarah ke langit dan batang-batang, ranting-ranting serta daunnya ada di bawahnya.

Raniar menghentikan alunan musiknya. Kembali membuka bagian atas tangan sebelah kiri blus panjangnya dan melihat jam digitalnya : 6.32am. Dan semuanya menjadi normal kembali. Tidak ada bunga menari, tidak ada cat berbentuk benang-benang yang melayang-layang, tidak ada kanvas aspal raksasa. Yang ada hanya Raniar yang sedang duduk mengambil posisi meniup seruling dan si pelukis agak membungkus dengan menggenggam kuas dan melukis di pigura kanvas lukisan biasa.

Jalanan itu, sudah hampir ramai lagi, satu dua manusia sudah mulai berjalan perlahan, menjawab panggilan kerja. Sampai setengah jam berlalu trotoar itu sudah penuh orang-orang. Raniar masih duduk santai dengan posisi memainkan serulingnya.

Dari belakang seorang teman menyapanya, “hey, wah… pagi-pagi udah di lukis.” Raniar sedikit kaget, dan menengok. Sang pelukis berhenti sejenak memperhatikan sang teman menyapa.

“Hey, iya iseng, aku datang terlalu pagi” jawabnya lembut. Lalu ia berdiri, melihat hasil lukisannnya yang masih kosong berwarna putih dan hanya berbentuk kanvas yang di sangga oleh tripod kayu.

“hmmm, oke dech!, Radyan, kita lanjutkan besok yah” ungkapnya, “saya kerja dulu.” Lanjutnya lagi.

“oke” sang pelukis menjawab. Sambil membentuk huruf O dengan ibu jari dan telunjuknya.

“Yuk, kita ke kantor Tik” sapanya pada si teman dan meninggalkan si pelukis.

Ketika sudah hampir jauh, Raniar menoleh ke arah pelukis. Memasukkan seruling perak ke dalam blusnya dan mengedipkan mata sebelah kirinya. Sang pelukis hanya tersenyum dan berkata “yah, besok kita mainkan lagi lagunya”. Sang pelukis menjentikkan jari; dan bunga-bunga, angin, pohon-pohon dan aspal ikut tersenyum.

Si pelukis kembali berkata, menitipkan kata-kata itu lewat angin sebagai kurir “selamat bekerja untuk Sang Kekasih … sayang.”

Bintaro, 13 juli 2015

Published by

depalpiss

Digital Blogger Simple Story. Berbagi dan bercerita, blogger kecil dalam dunia blogger Indonesia ||

3 kicauan di “Pagi itu pukul 05.27am”

Berkicaulah bro and sis ;)