Patung kucing dari emas

kucing-emasNak, hendak makan apa? jangan boros. Demikian emak ku selalu menasehati. Nak jangan sekolah ongkos seragam mahal. Demikian emakku selalu mengingatkan.

Beberapa tahun yang lalu, harga BBM melambung setinggi tugu pancoran. Dan sekarang harga cabai lebih mahal dari gele. Gila apa!, itulah emakku selalu mengeluh.

Saat itu bapak, sedang sakit di tambah gado-gado emak tidak laku, karena rasanya jadi tawar lebih keasinan. Bumbu penyeimbang yaitu cabai tidak mampu terbeli. Jadi emak hanya mengakalinya dengan sedikit cabe di tambah merica tumbuk. Para pelanggan banyak yang komplen. Dulu di masa jayanya gago-gado emak jadi primadona. Tidak saja buat kalangan miskin, namun juga para penggedong jadi penikmat gado-gado bu Jamari. Itulah nama emakku Jamariah Diah.

Bapak, sakit katanya ocehan gosip ibu-ibu bawel yang suka gosip tidak karuan itu akibat di guna-guna sama panjual gado-gado saingan emak.

Pernah berfikir untuk membantu emak, mungkin bekerja memcuci baju tetangga dengan bayaran, manyapu apapun akan aku kerjakan hanya untuk sedikit memperingan beban ekonomi emak dan bapak. yang sekarang beban itu pindah ke bongkok punggung emak karena beratnya yang sangat. Namun selalu di larang oleh bapak. Kalau sudah begitu rumah seperti neraka untung saja piring dan gelas kaca tidak sampai melayang, mungkin mereka sadar kalau sampai pecah untuk beli kembali emak dan bapak pasti tidak mampu, mahal.

Kalo lagi akur, mereka mirip kisah romeo and juliet, mesra-mesraan saling menatap ala novel romantisme, sambil ngisap gele bersama.

“Pak, si Nubin sebaiknya mbok, di suruh berhenti sekolah saja. Boyok ku udah ga kuat pak’e untuk ngulek bumbu gado-gado, kalo begini terus aku iso matek, iki pak’e”. Si bapak meririk agak sinis “Yo, ojo to bu, kasihan si Bin, sebentar lagi dia kan lulus, sayang toh bu ne”.

Rasa ibaku kembali menegok, aku hampiri mereka. “Iya Bu Pa, lebih baik Bin berhenti sekolah saja, Bin mau kerja. Kebetulan di toko pak ujang lagi butuh pengantar galon air mineral”. Si bapak kembali marah, opo toh, kok kamu jadi ikutan mbokmu. Pokoke kamu harus lulus sekolah terus kuliah, titik.

Agak hening sejenak, seolah masing-masing dari kami coba menyelami apa yang kami rasakan diam-diam. Bapak berdiri dan menghisap sisa gelenya yang terakhir, memintal-mintal dan menyentilnya keluar pintu. “Begini saja, kata bapak agar serius. Besok aku mulai kerja lagi, kebetulan mandorku lagi ada borongan”. Si emak agak terkejut, kemudian dengan nada sedikit marah ia memotong pembicaraan. “Bapak ini bagaimana sich, pa,e khan masih sakit!”. Bapak menimpali lebih sengit lagi, “ga bu e aku sudah sembuh, pokoke kalian tenang saja”, pak’e si emak senewen, “bu udah pokoke aku sesok kerja neh, titik.”

Demikianlah bapak, tidak ada yang berani melanggar kata titiknya, kalau ia sudah bilang titik ya titik.

* * *

Sore, ini keliatannya cuaca susah di ajak kompromi. Kipas angin butut hasil kreditan tidak mampu mengusir hawa panas. Hanya pembawa acara wanita di tivi, yang cantiknya seperti bidadari sedikit menghiburku. Emak masih sibuk membereskan dagangannya di depan rumah sambil nembang ala sinden jawa, yang sampai sekarang aku tidak pernah mengerti artinya. Sesaat kemudian bapak pulang, wajahnya sedikit pucat, berkeringat dan seperti orang di kejar-kejar hansip.

Bu cepat masuk rumah, emak sangat terkejut dan bertanya “ada apa to pak?”, “sudah cepat masuk!” perintah bapak. Pintu di tutup rapat-rapat, kemudian bapak mengeluarkan sebuah benda mirip patung berbentuk kucing berwarna kuning keemasan. Aku dan emak bingung sekaligus penasaran, “apa itu pak?” serantak suara kami berbenturan. Bapak memandangi kami dan menjawab “ini emas, kita bakalan kaya”, bapak tersenyum.

Kami hanya berdiri, tak percaya melihat benda aneh tersebut, patung kucing sedang duduk manis berwarna kuning keemasan. Ukurannya mirip sekali dengan piala dunia yang setiap empat tahun sekali menjadi rebutan, beratnya sekitar setengah kiloan. Bapak menenemukannya saat mencangkul tanah tempat untuk membuat pondasi rumah dan mnyembunyikannya diam-diam di dalam tasnya.

Sejak saat itu, suasana di rumah sangat menakutkan. Seperti sekelompok teroris. Kami sekeluarga begitu ketat. Takut rahasia ini bocor. Kami memandangi para tetangga, orang-orang di sekitar kami dengan penuh rasa curiga terutama untuk para pendatang baru. Para panjaja jajanan yang hilir mudik, anak-anak kecil yang bermain di pelataran sekitar rumah, bahkan pak RT sahabat baik bapak.

Sudah hampir sebulan, kami sekeluarga seperti itu. Sampai-sampai para orang-orang sekitar kami, manaruh curiga dan manjadikan keluarga kami top gosip tahun ini. Sebulan ini juga bapak dan emak menghabiskan biaya yang cukup besar untuk membeli cairan pemoles, untuk mempercantik patung kucing emas itu. Namun bapak belum menemukan satupun calon pembeli untuk patung itu.

Pekerjaan bapak jadi terbengkalai, dengan seringnya minta izin sebelum pekerjaan selasai dengan alasan kesehatannya belum prima. Untung mandor bapak sudah lama mengenal keluarga kami, jadi beliau memaklumi walau agak-agak senewan, demikian kata bapak. Sementara hanya berdagang sedikit sekali, biaya di pangkas seketat-ketanya untuk mencukupi biaya parawatan patung kucing emas. Tidak jarang pula emak membereskan dagangannya sebelum gado-gado gangannya habis terjual.

Seperti main kucing-kucingan kami ketakutan, entah takut karena apa?, khawatir kalau-kalau patung kucing emas itu di rebut oleh maling, atau di tangkap polisi dengan tuduhan mencuri, lagi pula mana ada orang miskin seperti kami yang memiliki patung emas seperti sekarang ini. Kalau kami bilang jujur telah menemukannya mana ada yang percaya. Benar-benar mimpi buruk semenjak kehadiaran patung kucing emas tersebut.

* * *

Aku bergegas pulang kerumah dari sekolah, seperti perintah emak dan bapak semalam. Cepat-cepat aku melangkahkan kaki ku. Tiba-tiba ada yang memanggil namaku “Nubin, Nubin, bin.. sebentar bapak mau ngomong.” Aku beplaing ternyata pak RT. Aku berhenti sejenak. “Mau kemana buru-buru?”, pak Rt mencoba menginterogasi. Tanpa menunggu aku menjawab, ia sudah bertanya lagi “bapakmu kenapa bin, akhir-akhir ini saya lihat perangainya jadi aneh begitu. Kalau ngobrol sama saya sering ga fokus, orangnya ada tapi pikirannya seperti ada di awan!”. kenapa bin, kamu tahu?. Apa sedang ada masalah?, cepat Bin beritahu saya, kamu kan tahu kalau bapakmu itu sahabat saya”. Aku hanya terdiam, pertanyaan pak RT sungguh memojokkan.”Hey kok diem bin jawab!”. “Enggga aaa pak RT ga ada apa-apa koq!”.

Pak RT mendekat menatap mataku dengan tajam, seperti ingin membelah kepalaku dan mendapatkan rahasia yang selama ini kami sembunyikan. “Ayo ceritakan sama saya”. Pak RT meminta dengan suara lembut. Dengan tatapan yang tajam berubah menjadi tatapan tulus, aku jadi terharu, namun kemudian aku membayangkan jika aku ceritakan apa-adanya maka terbesit di kepalaku gambaran sel penjara yang hitam legam, memagari emak dan bapakku. Akhirnya aku mengurungkan niat itu. Tampak sekali ketakutanku di mata pak RT, tanpa banyak bicara lagi aku kembali bergegas, karena takut ketahuan. “Ga ada apa-apa pak RT, saya pulang dulu pak mau bantu emak.” Aku berjalan lebih kencang dari sebelumnya dan pak RT hanya melihat penuh seribu tanda tanya.

Sampai di rumah, aku menceritan pada emak perihal pak RT itu. Emak hanya tersenyum berusaha menenangkan. “Bapak mana Mak?”, “bin bapakmu sudah dapat pembeli sekarang ia sedang pergi ketemu sama orang itu, sebentar lagi kita aman bin”. Bagus dalam hatiku semoga mimpi buruk ini cepat berlalu.

Malamnya, selepas adzan isya setelah menyantap masakan emak sayur kangkung dan tempe goreng. Bapak pulang membawa kabar buruk untuk kita semua. Pembeli menuduh bapak penipu, dan mengatakan patung itu hanya pajangan biasa yang di lapisi cat warna emas, bahkan calon pembeli itu mencoak sebagian patung dan mendapati isinya hanya semen biasa. Emak dan aku kaget mendengarnya dan meneliti patung yang telah gompal tersebut dan mendapati benar apa yang di katakan si calon pembeli. Bapak hanya duduk lemas di kursi dan menutup wajahnya seolah menyembunyikannya dari rasa malu dan bersalah.

Suasana kuburan telah pindah ke rumah kami, malam itu aku begitu gelisah memikirkan kebodahan kita bertiga. Hampir tak ada suara yang terdengar, aku, emak dan bapak diam. Tidak ada suara tivi, radio dan hanya suara jangkrik terdengar sayup-sayup di luar.

* * *

Aku merebahkan badanku di tempat tidur, dan berharap aku bisa melewati malam ini dengan tenang tanpa di bayangi rasa bersalah. Ibu dan bapak masih duduk di depan ruang tamu yang hanya berjarak dua langkah dari kamarku. Akhirnya kesepian ini di pecah oleh percakapan ke duanya, aku bangun dan menuju ruang tamu, duduk di bangku dan mendengarkan pembicaraan emak dan bapak.

Emak yang mengawali pembicaraan, “Yo wiss pak’e mau bagaimana lagi. La wong kita memang yang bodoh, percaya kalo patung itu emas, kenyataannya cuma patung biasa yang mirip emas. Sudah bodoh miskin lagi ndak bisa bedakan mana emas asli mana palsu. Sebetulnya yang buat kita bodoh bukan kemiskinan, hanya kondisi mental kita yang buat kita miskin dan bodoh. Makanya dari itu kondisi bisa di rubah, mulai sekarang kita ndak usah percaya rejeki jatuh dari langit, terus bisa buat kita kaya. Seharusnya kita manfaatkan saja yang ada sekarang. Dan mulai besok juga aku dan bapak harus berhenti isap gele, uangnya akan ibu alihkan untuk membesarkan usaha gado-gado, bayar kontrakan, bayar sekolah Nubin dan sisanya buat keperluan mendadak. Sekarang kita harus berfikir bagaimana caranya merubah mental miskin kita jadi maju. Bapak juga bisa, mengembangkan pekarjaan bapak yang dari kuli sampai menjadi mandor atau bahkan pemborong, bapak itu mudah bergaul, banyak kenalan lalu tahu seluk beluk pembangunan rumah yo toh pak?,

“Iya bu ibu benar”, bapak menimpali. “Cuma bapak masih ga mengerti masalah mental tadi kata ibu?.” Dengan pandangan bijak ibu kembali menjelaskan. “Begini pak’e, mental kita itu tergolong miskin, jadi cara pikir kita selalu miskin, itu sebabnya kita menganggap hidup kita cukup, padahal ibu, bapak termasuk Nubin punya potensi yang belum di kembangkan. Waktu bapak menemukan patung itu, kita melarikan diri dari mental miskin kita dan menganggap patung itu segala-galanya padahal kan ndak demikian. Ya to pak?, jadi mulai besok kita rubah cara pikir kita sudah cukup kita menyerah sama “keadaan miskin”. Kita jadikan saja “patung emas” itu pekerjaan kita, tapi ndak perlu pakai rasa curiga seperti kita menjaga patung itu pak’e. Gimana pak’e setuju. bapak diam sesaat dan merenung kemudian menjawab, “Iya bu aku setuju!.” “Yo wiss, Syukur ya Gusti Allah” emak meresponnya dengan menghela nafas laga.

Suasana diam kembali, namun diam yang bermakna diam pemaknaan yang mendalam masuk ke dalam relung-relung hati dan merobeknya menjadi harapan yang tidak kosong sama sekali. Diam yang belajar dari pengalaman. Terutama pengalaman patung kucing emas. Emak kembali memecah kesunyian, “ayo turu sek pak’e wes bengi”. Emak melangkah, mengusap kepala Bin dan di ikuti bapak menepuk-nepuk pundak Bin. “Ayo bin tidur dah malam, besok kamu sekolah”. “Iya pa sebentar lagi”, bin menjawab.

Hanya tinggal bin sendiri di ruang tamu, merasakan kelagaan yang penuh semangat. Ia berdiri kemudian keluar rumah menatap langit yang di hiasi suara petir sahut-manyahut. Tidak bebarapa lama gerimispun turun dan lama-kelamaan menjadi hujan lebat. Matanya tertuju pada pohon pisang di samping rumah, yang buahnya hampir ranum bergoyang-goyang, diterpa hujan dan angin, daunnya agak condong kebawah tertimpa air hujan. Air tersebut jatuh dari ujung daun pisang menuju selokan dan mengalir.

—–

Ilustrasi gambar : finger paint picture of a cat demonstrates texture. Paula Hrbacek ~ http://www.examiner.com/article/finger-paint-teaches-abstract-art

Published by

depalpiss

Digital Blogger Simple Story. Berbagi dan bercerita, blogger kecil dalam dunia blogger Indonesia ||

7 kicauan di “Patung kucing dari emas”

  1. Bener banget, karena pola pikirnya yang harus dirubah, apalagi hal-hal negatif, kayak suka nge-gele, cuma akan menghancurkan si pelakunya aja. Toh nasib bisa dirubah selagi kita punya keinginan untuk merubahnya, mungkin pesan yang ingin disampaikan seperti itu ya. BTW, ini cerpen karangan sendiri ya Mas?? Bagus, tapi sekedar saran, ada beberapa typo, mohon diperbaiki, isi ceritanya bagus dan bahasanya juga mudah dicerna. Makasih

Berkicaulah bro and sis ;)