Sekarang, Saat Ini

Untung saja ku jemput dia, seperti janjiku malam sebelumnya. Mumpung libur pikirku. Walau sudah terlambat satu jam, mungkin lebih. Kalau tidak, bisa ku bayangkan pipinya pasti memerah nanti, karena marah. Bukan karena tesipu malu. Ciri khasnya.

Begitu tiba, kuparkirkan motorku, sekilas kulihat nomer plat motorku, yang menggantung di belakang spakbor saat beranjak pergi. Lekat-lekat ku perhatikan tanggal dan tahunnya 04-15 (April 2015).

Sekarang, saat ini bulan Maret. Wah, satu bulan lagi jangka waktu motor itu mengganti platnya menjadi 04-20 (April 2020). Dan bisa ku bayangkan kerepotan yang akan ku derita mengantri dan membayar pajaknya di kantor samsat.

Tapi mengapa sempat-sempatnya aku melihat dan memikirkan plat motor?, sementara ada nyonya besar yang sedang menunggu dan harus ku culik hari ini dengan seizinnya, tentu saja. “Ah!, ada-ada saja” pikirku. Kadang sesuatu hal yang tidak berhubungan bisa mengganggu keromantisan momen saat ini.

Langsung saja ku bergegas, berjalan dengan segera. Ku lihat istri ku dari jauh. Ku coba senyum simpul yang mungkin dia kenal. Senyum yang kikuk. Seperti yang biasa ku lakukan saat berbuat kesalahan.

“Macet?” sergapnya sinis
“Oh nggak kok Yang” Jawab ku hampir lancar.
“Kemana aja sich, lama banget?, hape mu juga mati, tu-la-lit-tu-la-lit gitu” omelnya
“baterenya abis Yang. Maklum Yang, tau sendiri jalanan, ibu kota seperti apa?” jawabku cepat.
“lhaa, tadi katanya nggak macet?, nah itu apa” sewot kata-katanya.
“Maksud ku jalannya berlubang, terus ban bocor. Cari tukang tambal ban dulu”
“Tapi kamunya nggak kenapa-kenapa kan?” tanyanya khawatir
“Nggak dong!, cuma bannya.”

Dia sedikit tersenyum. Senyum yang di sembunyikan, senyum yang ku kenal, saat dia mulai memaafkan kesalahan yang ku buat.

“Oh, ya udah. Yuk pulang” manjanya dan melepaskan sisa senyum yang di sembunyikan.
“Yuk” ku jawab pelan, sambil mengangguk.
“Untung kamu nggak ikutan bocor juga Yang” ledeknya.
“Kalo akunya ikutan bocor, kamu yang tambal” dan kami tertawa.

Beberapa saat kemudian, kami sudah meluncur menggilas jalanan. 55 perjam ku takar kecepatannku saat itu. Yang ku tahu speedometer motorku rusak beberapa bulan yang lalu.

Setelah tikungan pertama dari kantornya, ku kurangi kecepatan, mungkin sekitar 30 atau 45 km/jam kembali ku takar, dan memastikan tidak terlalu pelan dan tidak terlalu lamban laju motorku.

“Yang, mau kemana lagi tanyaku” tanpa memalingkan muka dan terus berkonsentrasi pada jalan di depanku.
“Apa?” jawabya sedikit teriak bercampur suara-suara kendaraan lain yang melaju. Ku ulangi lagi pertanyaaku.
“Mau kemana lagi, apa mau beli makanan dulu atau sesuatu, barang kali?. Mumpung di jalan nih.” Tanyaku pada istriku sedikit menengokkan muka ke kiri, walaupun aku tidak benar-benar melihatnya. Hanya ingin memastikan ia mendengar pertanyaanku.

“Oh nggak Yang, kita langsung pulang aja dech!”. Ku tarik lagi gas motor itu, sedikit mengerang suaranya. Dan ku rasakan, ke dua tangan isti ku makin erat berpegangan di atas pinggangku. Sekarang, saat ini. Meluncur menuju ke rumah.

Bintaro, 07 Juli 2015

Published by

depalpiss

Digital Blogger Simple Story. Berbagi dan bercerita, blogger kecil dalam dunia blogger Indonesia ||

2 kicauan di “Sekarang, Saat Ini”

Berkicaulah bro and sis ;)