Sekuntum Bunga Untuk Hatimu

Cerpen : untuk internet sehat. “YUK!! STOP kebencian di Sosial Media dan internet ~ memakainya secara arif dan dewasa” :)

Flowers 709

Malam yang panas. Bulir-bulir keringat menetes deras membasahi kerah bajunya. Tetapi apa boleh di kata. Seorang profesional harus tetap semangat dan bekerja sesuai potensi dirinya dan menanam rasa syukur dalam-dalam ke hati. Seraya berkata “terima kasih untuk nafas ini, sehingga aku masih di perkenakan untuk berkarya.”

Suasana makin riuh di belakang panggung, tanda akan di mulai pergelaran baru. Beberapa kostum telah tersedia. Beraneka ragam warna, asesoris dan bentuk menggantung rapi, di sertai label nama “Marissa Liana” dan urutan angka-angka terpaut menempel pada masing-masing kostum yang telah di persiapkan panitia penyelenggara untuk pagelaran terakhir drama malam itu.

Sementara, untuk pemeran drama yang lain sudah selesai. Kali ini hanya tinggal penampilan tunggal milik Marissa. Lekaslah ia mengganti baju penyapu jalanan berwarna kuning kunyit pada peran sebelumnya, dengan kostum No.3. Perannya yang terakhir untuk pergelaran drama kali ini.

Ia hanya perlu membacakan puisi, yang sebelumnya telah di persiapkan oleh penulis naskah, sesuai pesan dari sang sutradara. Hanya butuh waktu 15 menit Marissa mengganti bajunya dan 10 menit untuk make up pelengkap untuk penampilannya sebagai bunga, bunga mawar tepatnya. Bunga yang bisa berbicara.

“Risa, siap-siap.” Suara pelan dan tegas menyapanya, Marissa hanya melirik sebentar ke arah bayangan sang sutradara pada kaca besar di depannya, dan ia menatap dirinya sendiri, memastikan dirinya telah siap. Kemudian siku tangan kanannya terangkat dan menunjukkan jempolnya ke belakang menunjuk sang sutradara. “OKE!.” jawabnya.

***

Di balik cadar tirai berwarna merah darah, sang sutradara sedikit melongokkan wajahnya keluar, tanpa berpaling. Dan berkata : “Marissa masuk” perintahnya.

Marissa berjalan bergegas. Musik mulai bergulir menandai bahwa perannya untuk segera di mainkan. Penonton kembali menyambutnya dengan tepuk tangan yang semarak, serampak. Lalu beberapa saat kemudian sunyi dan penonton menerka-nerka dan apa yang akan di mainkan kali ini.

Sebuah pemandangan yang Marissa sangat sukai. Ekpresi penonton membuatnya tambah bersemangat. Di dunia ini menurut Marissa adalah hal tersebut yang sangat ia kagum. Tanda tanya, tegang, ingin tahu, tidak sabar dan semuanya ekpresi itu di perasnya dalam bentuk yang ia tidak pernah pahami. Dalam rasa.

Marissa menarik nafas perlahan, mencoba menggali puisi yang telah di hapalnya dalam-dalam. Hembusan nafas pertama, tarikan nafas kedua dan hembusan nafas ke dua lalu tarikan nafas ke tiga dan seterusnya. Dan puisi itu akhirnya bergulir :

ketika kau rasakan kebencian
ku persembahkan ragaku untuk hatimu
dengan semerbak harum dan durinya
dengan ribuan kumbang di sarinya

ketika kau rasakan kebencian
ku persembahkan doa dalam wangiku
dengan sekuntum tubuhku yang menari
dengan gelora rasaku yang merekah

akankah hamparan hatimu yang luas memelukku?
dengan kebahagiaan cita yang lebih harum?
dari pemberian yang tidak berarti ini?

namun aku ini hanya sekuntum bunga,
apa yang ku tahu soal perasaan?
apa yang ku tahu soal pikiran?
apa yang ku tahu soal cinta?

tugasku hanya tumbuh
gitaku hanya warna
ceriaku hanya wangi

mampukah mekarku meredam kebencianmu?
menariknya ke dalam tubuhku?
kemudian, merubahnya menjadi layu
lalu binasa menghantarkan benci itu
untuk di luluhkan bersama kematian indahku?

ketika kau rasakan kebencian
ku persembahkan ragaku untuk hatimu
dengan semerbak harum dan durinya
dengan ribuan kumbang di sarinya

Selesai-lah peran Marissa, kembali tepuk tangan membahana di gedung drama itu, ramai, ramai, ramai dan perlahan-lahan melambat, melambat dan melambat sampai akhirnya berhenti dan kembali sunyi, terdiam.

Pelan-pelan namun pasti : panggung, marissa, penonton, semua pemeran drama, sang sutradara, kostum pemeran, lukisan latar, tubuh-tubuh, bangku penonton, baju penonton, tirai berwarna merah darah. asesoris penghias, kaca, kucing, anjing, nyamuk, jangkrik, lampu, karpet dan gedung drama itu meleleh. Seperti lilin yang habis terbakar.

sunyi…
senyap…
hening…

Setelahnya, dan akhirnya seluruh drama itu habis meleleh. Tanpa sisa. Seolah-olah ada lubang besar yang menghisap semuanya ke dalam tanah tanpa bekas. Meninggalkan rembulan, yang bersinar gagah menggantung di atas langit dengan cahaya yang anggun dan tenang, sendirian.

Bintaro, 17 Oktober 2015

Published by

depalpiss

Digital Blogger Simple Story. Berbagi dan bercerita, blogger kecil dalam dunia blogger Indonesia ||

Berkicaulah bro and sis ;)