Suara Gelas Pecah (bagian.2)

Kinarsih, duduk sendirian di cafe itu. Urusannya telah selesai dengan salah satu kliennya. Kinar memutuskan ingin menikmati suasana sebentar. Setelah sepuluh menit yang lalu sang klien pamit.

Lumayan santai ia, urusan hari ini beres tanpa kendala berarti. Klien yang kooperatif pikirnya. Sejurus kemudian,

…. Prangggg!!!

…. Suara gelas pecah, memecah suasana di ruangan kafe itu. Ia kaget bukan kepalang tangannya secara reflek memegang telinga dan ia terpejam. Suaranya yang nyaring mengalahkan lagu-lagu instrumental lembut dalam kafe itu. pelan-pelan tenang kembali, dan lagu terus berlanjut. Apa yang terjadi pikirnya. Suara itu berada sekitar beberapa langkah di belakang tempat ia duduk.

Ia menoleh sebentar, melihat apa yang terjadi. Oh, ternyata seorang pelayan menjatuhkan sebuah gelas. Di depan meja kasir. Ia bisa melihat dengan jelas, pelayan itu jongkok dan merapikan bekas gelas-gelas pecah yang berserakan di lantai.

Gelas pecah, batinnya. samar-samar ingatan membawa ia terbang ke dalam lamunan. Dan ia tertawa dan berkata dalam hatinya:

“hmmm gelas pecah”
Suami, maksudku mantan suami.
Ha ha ha ha, bukan maksudku menertawakan dia, aku hanya sedang menertawakan diriku sendiri. Tetapi, kenangan itu mengajarkan ku sekian banyak kecendrungan untuk menjadi lepas … dan mencintai.

Setelah kejadian itu, perasanku campur aduk. Seperti adunan semen yang di racik pekerja bangunan. Pecah. Berhamburan. Tak tentu arah. Namun lama kelamaan akhirnya adonan itu toh rampung juga. Bercampur dengan air, pasir dan semen itu sendiri. Dan sampai pada akhirnya mengeras.

Itulah yang kurasakan … keras dan hampa. Dan aku tak tahu apa yang dia rasakan pada saat itu. Aku terlalu benci dan muak dengannya. Mungkin lebih tepatnya aku marah dengan diri sendiri. Entahlah!, saat itu aku tak tahu pasti. Tapi yang jelas, kehampaan itu menuai amarah yang menjadi-jadi dan ku simpan dalam-dalam.

Sampai suatu hari, aku … hmmmmm, kejadiannya sungguh aneh dan tidak masuk akal. Lapar telah menolongku. Ketika kuputuskan untuk membeli makanan di depan komplek rumahku, di sana ada sebuah mini market kecil dan di depannya berderet para penjual makanan, lumayan banyak. Tapi aku lupa membeli makanan apa, kejadiannya pun sudah cukup lama. Dua tahun yang lalu.

Yang ku ingat hanya satu hal. Yaitu, komidi putar. Di seberang jalan mini market itu. Sebuah lapangan hiburan kecil untuk orang-orang di sekitar wilayah itu. Mereka menyebutnya pasar malam.

Entah, apa yang terjadi. Belum pernah aku tertegun melihat benda itu. Seperti aku baru melihatnya untuk pertama kali. Seolah ia adalah benda ajaib dari planet lain. Padahal kan, aku pernah naik benda itu, ketika aku kecil dulu.

Ia berputar dengan gagahnya.

Berputar…
berputar…
berputar…
dan berputar…

Yang lebih membuat ku tertegun adalah bagian tengah dari benda itu. Sebuah lingkaran membulat dari sebuah besi, baja mungkin. Aku bener-benar tidak terlalu yakin dari bahan apa ia di buat.

Bulatan itu begitu tenang, sementara bangku-bangku yang mengitari dalam lingkaran luar, bergerak, bergerak dan bergerak searah jarum jam. Namun benda bulat di tengahnya tidak terpengaruh sama sekali ia hanya diam.

Kemudian aku membayangkan, seandainya bulatan di tengah itu adalah diriku sendiri. Dan tidak terpengaruh putaran-putaran bangku di sekitarnya, tenang bersahaja. Jika ku umpamakan, putaran-putaran bangku dan tiang-tiang menggantung itu seperti masalahku. Dan salah satu bangku adalah diriku. Aku dan masalah yang kuhadapi, segala perasan sakit adalah tiang-tiang penyangga dan putarannya.

Masalah-masalah itu, yang tadi kusebutkan hampa, marah, benci, kecewa, sakit hati dan lain-lain. Sejak saat itu aku terinspirasi dengan pusat tengahnya. Dan aku akan mencoba belajar menyelesaikan semua rasa menyesakkan itu dengan cara yang di ajarkan komidi putar itu.

Yah, komidi putar itu adalah guruku, mengajarkan ku tentang menjadi bebas. Rayuan pusat tengah berbentuk lingkaran itu merayuku. Seperti seorang kekasih yang telah lama ingin meminangku. Kelihatannya, aneh. Mungkin orang akan menganggapku gila jika ku ceritakan. Tapi itu tidak masalah, rahasia itu terjaga semat-semat dan rapi dalam sanubariku.

Oh lingkaran tengah
Tenang bersahaja dalam keheningan
Ketika jeruji-jeruji terkait mengunci dan memutar bangku-bangku ku sedemikan rupa.

Kupasrahkan diriku, kulepaskan semua tetap berputar
Kupindahkan diriku ke pusat. Seraya berkata,

hei putaran
aku melihatmu
dari sini,
aku menikmatimu
aku bisa benyanyi
aku tetap menari
aku tetap berputar
tapi aku tetap tenang
tetap damai

sementara kalian bangku-bangku semua bisa terus berputar-putar mengelilingiku….

Oh betapa indahnya … betapa syahdunya ….
Dan aku tidak sakit hati lagi saat itu, oh komidi putar terima kasihku untuk-Mu. Aku memejamkan mata dan bersyukur.

Yah, dan tidak beberapa lama setelah kejadian itu, aku mencintai dia, mantan suamiku …. kembali … cinta yang berbeda. Kali ini aku tidak sama sekali berharap ia untuk mencintaiku kembali.

Oh Cinta …. untuk mencintainya kembali, namun ia tidak perlu mencintai ku kembali. Hmmmm, aku akhirnya mulai belajar sedikit tentang cinta … Cinta … betapa indahnya. Dan aku tidak perlu menjelaskan perasaan itu …. betul, betul tidak perlu, meskipun.. yah, memang aneh. Tapi mungkin dengan cara itu cinta itu bekerja. Itu sebabnya mungkin, cinta mengajari kita terlebih dahulu tentang rasa sakit, mungkin … aku tak pernah tahu, atau mungkin … hmmmm aku telah tahu, tapi. Siapa yang tahu?.

← sebelumnya (bagian.1)

Rempoa, 23 April 2016

Published by

depalpiss

Digital Blogger Simple Story. Berbagi dan bercerita, blogger kecil dalam dunia blogger Indonesia ||

Kicauan Pertamax di “Suara Gelas Pecah (bagian.2)”

Berkicaulah bro and sis ;)