“KATANYA” Si Kancil Tidak Mencuri Mentimun Lagi?

Si kancil, anak nakal suka mencuri mentimun,

ayo lekas di hukum jangan di beri ampun.

Kiralah kurang lebih begitu lagu lama anak- anak tempo dulu.

The Broken Lamp (5)Si kancil saat ini di era “katanya” reformasi tapi banyak berubah dalam diri si kancil sendiri, jika konon “katanya” ia hanya mencuri mentimun paling penjaganya cuma pak tani, dan hukuman juga oleh pak petani.

Setelah era baru ini dan “katanya” pula hukum menjadi panglima, koq kelihatannya pak tani yang harusnya menjaga kebun mentimun malah ikutan nyolong mentimun?, konon sich denger-dengar kabar dan desas-desus miring dari sosial media.. Ini katanya sih belum tentu bener. Jangan gampang percaya.

Konon “kayanya” lagi pak tani sedang mengolah separuh kebun pihak asing, jadi bukan milik dia, seutuhnya. Pak tani hanya pengelola dan sekaligus merangkap penjaga.

Apa sebab, konon “katanya” pak tani mengadaikan separuh sisa kebun itu pada pihak asing, kasihan pak tani yang seharusnya ia pemilik kebun itu. Eh malah di jual pada pihak asing, kenapa bisa begitu??

Menurut “katanya” pak petani itu sangat malas mengelola kebun. Dan akhirnya dia jatuh miskin, karena hal itu dia tanpa mau berusaha dan “seenak e dewe” dan tanpa pikir panjang pula ia menjual kebun itu, di dasari semangat lupa bahwa kebun itu di titipi leluhurnya untuk tetap di jaga dan di kelola betapapun nelangsannya dirinya, eh eh kasihan yah pak tani!

Nah. Akhirnya setiap lima tahun sekali pak tani harus bersaing dengan para pemalas lain untuk bersaing hak kelola kebun itu dengan para petani lainnya.

Namun eh, ternyata ongkos untuk bersaing tidak semurah yang ia bayangkan. Dan untuk mengatasinya mereka semua selalu berbuat curang dan selalu meminjam modal dari penguasa asing pemilik separuh kebun yang lain untuk dapat memperebutkan hak pilih dan suara terbanyak dari para pendukung, yaitu keluarga besar pak tani yang berjumlah sangat banyak.

Aneh yah!, koq jadi untung kanan kiri penguasa itu. Tapi jangan salah penguasa kebun itu banyak sekali dari pihak asing, tidak cuma satu, jadi semuannya punya kepentingan.

Kalkulasi mulai di hitung. Siapa di antara kandidat yang paling membela pihak asing itu konon “katanya”, di menangkan dalam pemilihan untuk mengelola kebun itu. Dan hasilnya di kirim ke penguasa asing itu. Koq bisa begitu yah!, yah bisa dong! namanya juga di dunia fiksi.

Awalnya, tidak terjadi masalah. Namun makin lama pak tani ini makin rakus dan tidak terkendali.

Nah, dari situ maka keluarga besar pak tani jadi kelaparan. Dan kurang kepercayaan kepada para pak tani-pak tani yang sedang berebut mencuri hati mereka untuk mengelola kebun itu.

Hore… akhirnya si kancil pun girang peran curi-curiannya telah diganti oleh pak tani yang harus mengelola kebun itu untuk dirinya sendiri dan pihak asing itu.

Seperti “katanya”, si kancil hanya jadi penonton saat ini dan berfikir dalam hatinya ‘: “betapa bodohnya, seorang pemilik yang di kuasai pihak asing”, mudah2an ini terjadi hanya di dunia fiksi ya, tidak di dunia nyata, walaupun pada kenyataannya, ini memang sudah terjadi… mungkin… dan lagi.. lagi.. “KATANYA” ha ha… jangan terlalu serius becanda sedikit kan boleh! ((:

Published by

depalpiss

Digital Blogger Simple Story. Berbagi dan bercerita, blogger kecil dalam dunia blogger Indonesia ||

2 kicauan di ““KATANYA” Si Kancil Tidak Mencuri Mentimun Lagi?”

Berkicaulah bro and sis ;)