Pengeluh Profesional Di MedSos, Cas Cis Cus Gitu?

faceItMedia Sosial, dari namanya jelas banget yang media untuk bersosial dan mewartakan sesuatu yang bersifat sosial.

Sosial sendiri maknanya luas banget, tapi sih menurutku pribadi secara subjektif bisa juga berarti berawal dari diri sendiri kemudian mengalir ke individu-individu lanjut lagi ke masyarakat luas dan akhirnya kembali lagi ke diri kita sendiri.

 

Penelitian Swa Di Media Sosial

Terkadang melakukan penelitian swa di sosial media bisa juga menjadi hal yang mengasikkan. Penelitian ini bukan untuk laporan hal yang ilmiah hanya sebatas pembelajaran, bagaimana kita melihat diri kita sendiri di dalam diri orang-orang yang melakukan sharing dalam sosial media.

Terkadang saya melakukan hal itu, saya hanya mengamati dan tanpa turut campur, mencoba menghilangkan prasangka dan hanya mengamati. Seperti ketika seorang pembuat film dokumenter mengamati apa yang terjadi di alam (misalnya kehidupan semut). Mengamati, merekam dan akhirnya di kemas menjadi sebuah film dengan narasi sebuah kesimpulan dari yang di amati itu.

Yah, kalau yang itu sudah masuknya ke ilmu pengetahuan (science), namun yang saya lakukan hanya sebatas ingin tahu apa sih, yang sebenarnya terjadi di media sosial?, yah sembari belajar tentang sesuatu.

Nah, untuk itu pengamatan yang ku lakukan tidak semua hal. Namun ada yang menarik tentang hal itu adalah banyaknya orang-orang dalam jaringan media sosial yang saya “amati” melakukan hal yang hampir sama atau mirip-mirip yaitu “mengeluh”.

Keluhannya beragam, mulai dari permasalahan keluarga, pekerjaan, galau karena putus, galau karena jomblo, bertengkar dengan orang lain, tidak puas dengan berbagai hal, pesismis. Yah, kurang lebih seputar hal-hal itu deh.

 

Status Palsu

Waktu itu, saya mendapat tambahan informasi “secara tak sengaja” dari seorang teman SMP. Tentang status palsu. Kami sedang berbincang-bincang tentang sosial media, dan akhirnya berakhir pada sebuah pertanyaan “kenapa orang-orang suka sekali mengeluh di MedSos?”.

“Paling status palsu,” demikian jawab teman saya. Yang di maksud status palsu adalah, ketika kita mengeluh berpura-pura. Dan hal itu tidak seperti apa yang sebenarnya benar-benar terjadi. Contoh misalkan saya mengeluh tentang betapa tidak adilnya orang tua saya yang pilih kasih, memberikan handphone baru untuk adik saya, sementara saya tidak.

Padahal hal itu tidak benar-benar terjadi. Alasannya cukup simple karena ketika kita meng-share status yang bermuatan semangat, keceriaan, atau hal-hal yang membangun justru hal-hal seperti itu justru di sepelakan. Atau di anggap sok semangat, sok bijak dan bla … bla .. bla.

Namun ketika kita menshare status yang bermuatan pesimis, banyak menyambut, banyak yang menghibur sehingga kita menjadi kecanduan akan hal tersebut. Sehingga berlanjut ke kebiasaan dan pada akhirnya menjadi kenyataan.

Dan akhirnya yang awalnya tadinya hanya pura-pura menjadi seperti yang apa pikir tentang diri kita sendiri, padahal hal itu semua bukanlah diri kita yang sebenarnya. Sehingga terus berlanjut setiap hari ke harinya tanpa di sadari.

Itu merupakan hanya sebagian salah satu contoh, tentunya masih banyak lagi contoh yang lainnya. Pastinya seorang psikolog yang handal dalam bidang psikologi lebih pandai dan bisa menjelaskan tentang fenomena tersebut.

 

Keinginan dan Lupa Bersyukur

Di samping itu, ada beberapa hal menarik lain yang ku amati. Biasanya semua hal yang di keluhkan adalah akibat dari rasa tidak puas akan sesuatu atau keadaan tertentu.

Saya pernah membaca, apa yang di katakan oleh orang bijak (bijak dalam arti kata sebenarnya). Bahwa “keinginan adalah pintu masuk ke dalam penderitaan?.”

Seperti dalam lagu di film animasi doraemon, “ingin ini, ingin itu, banyak sekali…” nah, tapi sayangnya kita harus mengakui kan, tidak semua keinginan kita bisa terlaksana?

Ketika keinginan itu tidak tercapai kita menjadi kecewa dan berlanjut membuat kita tidak puas akan diri kita yang sejati. Diri kita yang apa adanya, diri kita yang ceria dan diri kita yang penuh semangat.

Makanya setiap orang bijak jika kita mau membuka hati kita sedikit saja, akan selalu mengingatkan untuk mengenal “diri kita sendiri”. Jadi ketika kita tidak mengenal diri kita sendiri, kita akan selalu terjebak pada identitas-identitas palsu tentang diri kita sendiri. Sehingga ujung-ujungnya adalah kemarahan, rasa kecewa, rasa isi, rasa cemburu dsb.

Dan petuah itu berlaku tidak hanya di dunia maya (internet) tapi juga di kehidupan yang kita jalani saat ini. Mungkin semangat dan petuah bijak tersebut bisa menjadi gita kita yah, untuk mencoba menyelami diri kita sendiri.. amin.

Dan itulah yang terjadi sebenarnya apa kita keluhan itu kian hari kian bertambah banyak, dan sulit untuk di kendalikan. Apalagi sosial media saat ini sudah menjadi semacam lifestyle bagi kebanyakan orang.

Dari semua keluhan itu ada sesuatu yang hilang, yaitu lupa atau alpha-nya diri kita akan bersyukur. Padahal sebenarnya setiap hari kita di berikan hal yang sangat mudah untuk di syukuri jika kita mau membuka hati kita, misalnya nafas. Yah, nafas. Itu baru salah satunya dan masih banyak lagi daftar lain, jika mau kita sukuri. Silahkan di cari sendiri yang lainnya :).

 

Pengeluh Profesional

Saya membayangkan sesuatu yang absurd “jika setiap keluhan yang kita share di sosial media di hargai Rp.50,00/keluhan di jamin dalam waktu beberapa tahun saja, tentu kita akan menjadi orang kaya” :)) ha ha LOL.

DI BUKA LOWONGAN PEKERJAAN
PENDIDIKAN : TIDAK PENTING
KEAHLIAN UTAMA : PINTAR MENGELUH
GAJI : 45 JUTA PER/BULAN
SYSTEM KERJA : MULTI LEVEL KELUHAN

Lamaran bisa di ajukan ke website berikut

PengeluhProfesionalMedSosCasCisCusGitu.Com

Published by

depalpiss

Digital Blogger Simple Story. Berbagi dan bercerita, blogger kecil dalam dunia blogger Indonesia ||

7 kicauan di “Pengeluh Profesional Di MedSos, Cas Cis Cus Gitu?”

  1. baru bisa komen nih……dilemanya kl tulisan di pajang di medsos lebih interaktif.apalagi di grup heboh…tapi tak ada income…kl di blog ya leboh serius tapi sepiiii hiks

      1. bro pa kabar? ane g deg degan banget nih, mo tanya dash b blogger ane dah ada pengaturan ad display, ane pilih yang recomended tp ngga muncul iklan, apa ini disebut masa penilaian? koq g ada nerima kode2 yang harus ditempel di gadget? trus pengaturan payment itu gimana masuknya? harus lewat email? sign in dulu pk akun adsense? pliz suhu hehe jawabannya coz ane ngga ngerti bgt

      2. Baik sob :) … oh… iklannya muncul tapi harus bersabar memang butuh waktu. Iya, nanti kalo kunjungan bagus muncul sendiri dia, iklannya, sabar aja sob!. Terus sering-sering ngecek email yang tersangkut sama Adsende mu itu. Kalo payment adanya di pengaturan adsende, login ke adsende dulu. Masuk ke pengaturan. Pembayaran, terus isi data-data alamat rumah lengkap, sama nama siapa penbayaran iklan nantinya (atas ana siapa). Setelahnya pantengin terus email terkait, biasanya di kirimin semacam email, untuk langkah-langkah selanjutnya dari si mbah google itu.

      3. iya udah masuk akun GA, masih pada 0 hehe earningnya, kl liat blog delpa wuih berasa minder blog ane bisa diterima, btw kl trafic rendah bisa kena banned kah? nyantai aja ya jawabnya kl sempet..sukses ya sob tq

      4. kalo traffic–nya rendah nggak kena banned,.. paling penghasilannya aja yang kecil. Yg penting jangan di klik sendiri iklannya, bisa2 kena banned (biar orang lain aja yg klik).

        Nggak sob, blog ini kecil trafficnya, karena mmg cuma personal blog aja & ga terlalu keurus juga, yah harus dibagi sama kerja yang lain juga waktunya :) .

        Kalo blog, saya udah ga main AdSende!, ga ada iklannya dia, tuk adsende saya lebih konsen ke YouTube video gitu sob!, sip, sukses juga…

        Yang penting nih tuk penghasilan jangan terlalu di pusing-in, konsen ke konten aja. Jangan sampai ke-enjoy-an kita nulis keganggu sama obsesi mendapat penghasilan besar.
        Justru menurutku pribadi, kurang baik, soalnya kreatifitas menulisnya jadi keganggu sama pikiran-pikiran mendapat uang itu. Yap intinya menikmati betul apa yang kita kerjaain. Kalo soal uang jangan terlalu di pikirkan.

        Oke dech 1 more sukses sob :)

      5. iya ane juga banyak denger GA low bgt hasilnya malah yang udah diterima aja pertahun cuman belasan $, ane blum ngerti “ga ada iklannya dia” maksudnya?

        ane juga dulu mikirnya gitu sob, kita berkarya bahkan hidup sekalipun akhirnya bukan untuk uang tapi ane mikirnya gini “kalo tulisan ane memang baik menurut ane dan mudah-mudahan bisa inspirasi buat orang lain akan lebih senang jika pihak GA pun mengapresiasi dengan menerima blog ane menjadi publisher gitu hehe

        seperti delpa bikin karya digital, di medsos temen pada muji bagus2 tapi dijual ngga laku kan masih tanda tanya?

        sama seperti sekolah rajin pinter tapi ngga lulus-lulus, ijazah memang formalitas bukan jaminan kualitas tapi setidaknya diakui, pengakuan orang lain bikin kita percaya diri gitu.

        kesenangan batin yang tak terkira jika talent kita bisa menunjang hidup kita secara ekonomi dan saya sampai ini belum merasakan hal itu

        mungkin delpa udah melewati masa2 daftar GA buat blog dan orang lainpun sudah punya blog berbayar mandiri ngga usah numpang gratisan di wp/blogger

        makasih bgt nasihatnya, kalo ada waktu bales sepanjang-panjangnya, ga usah buru-buru

        ane antusias bgt pengalaman delpa misal punya apa sih blog self hosting gitu x

        ok makasih sekali lagi

Berkicaulah bro and sis ;)